Mengenal Program Bilik Sastra yang Diadakan Voi.id

Posted on

Sebagai salah satu program yang terus-menerus di dalam menekankan kabar-kabar paling baru dari luar negeri, rupanya tak membuat VOI atau Voice of Indonesia meremehkan ranah di dalam negeri. Terbukti, sejak th. 2011 sampai sebagian th. setelahnya, voi.id secara khusus menyelenggarakan program yang mana mengangkat karya-karya cerpenis terbaik di dalam negeri. Tidak harus sementara lama, yuk kenali apa itu Bilik Sastra di ulasan berikut ini.

Daya Tarik Program Bilik Sastra yang Diadakan voi.id

Para cerpenis Indonesia sejak th. 2011 pasti amat bahagia. Pasalnya, keliru satu program yang diadakan Radio Republik Indonesia yaitu VOI mengangkat tema perlombaan berupa karya-karya sastra terbaik dari di dalam negeri. Bahkan tidak cuma mereka yang tinggal di di dalam negeri saja yang bisa ikut, para Warga Negara Indonesia yang tinggal di luar negeri pun terhitung bisa memasukkan karyanya untuk diseleksi.

Boleh dibilang, program ini amat berikan angin segar untuk dunia sastra tanah air. Apalagi di tengah maraknya pembajakan karya buku dan terhitung tetap jauhnya minat anak muda bangsa ini dengan minat baca. Dengan diadakannya program ini, maka seolah-olah gelora sastra tanah air sedikit bergeliat. Selain itu, bukan hadiah yang diperhitungkan, tapi fakta memenangkan penghargaan ini pasti saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri.

Contohnya saja di Bilik Sastra th. 2016 dimana karya terbaik yang masuk dimenangkan oleh WNI yang tinggal di luar negeri. Sebut saja Justto Lasoo, pria yang lahir di Solo dan kini bekerja di Taiwan ini rupanya merupakan keliru satu penulis cerpen yang mana pada Bilik Sastra th. 2016 silam, ia menjadi pemenang pertama. Nah, sudahkah Anda terhitung ikut mencobanya dulu di voi.id?

Terakhir, mari kami berikan apresiasi pada RRI dimana di tengah situasi dunia sastra di dalam negeri yang tidak pasti ini, voi.id tetap memikirkan mengenai nasib para sastrawan-sastrawan terbaik yang Indonesia miliki. Jangan sampai cuma sebab berada di luar negeri, karya mereka tidak bisa diakui dan tidak bisa disertakan di dalam bermacam perlombaan. Selain serupa halnya dengan ‘membuang bakat’, tindakan ini terhitung tidak bakal memajukan dunia sastra kita.

Demikian ulasan mengenai Voice of Indonesia. Semoga ulasannya berfaedah dan konsisten cintai sastra di dalam negeri ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *